Lihat mereka
Mereka yang kumuh itu
Yang memanggil jiwaku
Ohh saudaraku
Saudaraku yang berlumur keringat itu
Cucuran keringat yang selalu mengalir
Siang dan malam
Dimana mereka itu?
Dimana orang-orang besar negeri ini?
Aku memandang langit
Langit yang luas
Yang seakan menatapku tajam
Menampakkan warnanya yang indah lembut
Membuatku tersenyum kecil
Ohh langit yang indah
Ku tahu kau memberikan signal itu kepadaku
Dan
ku tahu semua itu harus ku jalani
Warna biru yang terang itu
Mengingatkanku untuk tetap tersenyum menghadapi hidup ini.
JAKARTA – Mantan wakil presiden RI, Jusuf Kalla,
mengatakan perjuangan menegakkan keadilan di setiap masa selalu penuh resiko.
Resiko itulah yang menurutnya juga dihadapi politisi PKS Misbakhun, mantan mentri hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra, dan penyidik KPK Novel Baswedan. Bedanya, ujar JK, resiko perjuangan di masa lalu dan di masa kini berbeda. Menurut Ketua Umum PMI itu, aturan di zaman dahulu lebih jelas dalam menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar, sedangkan aturan di masa sekarang seolah dikaburkan sehingga masyarakat pun bisa menjadi bingung. Seseorang, lanjut JK, bisa mendadak muncul sebagai pelaku kejahatan seperti persoalan hukum yang menimpa Komisaris Polisi Novel Baswedan. Seperti diketahui, Novel yang merupakan penyidik KPK dari Polri itu dituduh menganiaya pencuri sarang burung walet di Bengkulu, saat ia menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu tahun 2004. Tak cuma penyidik KPK yang memiliki resiko. “Politisi pun harus lebih hati-hari, karena berbeda dari zaman dulu, hukum sekarang ini tidak jelas. Tiba-tiba muncul kasus L/C bodong Misbakhun. Yusril pun sempat tersandung kasus 10 tahun lalu,” kata JK dalam peluncuran buku Misbakhun, ‘Melawan Takluk,’ di Hotel Atlet Century, Jakarta, hari ini. Misbakhun menulis buku yang mengisahkan sisi kelam hidupnya sejak ditangkap sampai dipenjara atas kasus L/C fiktif Bank Century itu ketika keluar dari tahanan usai MA mengabulkan Peninjauan Kembali yang ia ajukan daan memutusnya bebas dari segala tuduhan. Misbakhun mengatakan, kriminalisasi terhadap dirinya akan menjadi noda hitam dalam pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Padahal SBY selalu mengatakan dirinya sebagai presiden yang menghormati hak asasi manusia dan menjunjung tinggi supremasi hukum. Tapi dalam kasus saya, dia melakukan kriminalisasi Ini akan dicatat dalam sejarah,” kata Misbakhun. |
KATA TIDAK
BAKU
|
KATA BAKU
|
Resiko
|
Risiko
|
Mentri
|
Menteri
|
Zaman
|
Jaman
|
Dibuai angin rembulan
Aku terhanyut lepas dalam mimpi
Menikmati alunan malam
Dan getar-getar sinar bulan
Cahaya meredup senyap
Aku mengelana terbang ke alam
Menari bebas ke langit luas
Dan menjejak kaki ke atas bintang
Sempurna segala malamku
Bila dengan angan-angan nyata
Juga disanjung liuk-lampai khayalan
Aku terangkat dalam hilang kesadaran
Aku
Terbangun dalam tidur
Bunda,
Arti
kasihmu
Berikan
bunga citra kehangatan
Yang kan
abadi di benak hati
Sebab
sayangmu pancarkan seberkas cahaya
Yang merona
juga menggelora jiwa ini
Bunda,
Nama
manismu
Bahkan
selalu bernaung pasti
Di dalam
batin sanubari
Karna
tulusmu t’lah perisaikan diriku
Dari segala
bayang yang hitam kelam
Maka
cintamu itu, Bunda
Tak kan
pernah memudar
Dari lubuk
ingatan
Karna mampu
membelai hati,
Menjaga
dengan kermunian kasih
Dan beri mentari kehidupan
Ada Jurusan Sastra Indonesia di Kampus Polandia
Beberapa
mahasiswa Polandia sedang serius mengikuti kursus belajara Bahasa
Indonesia yang di adakandi kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di
Warsawa, Polandia.
Dua pekan lalu Tribun mengunjungi
Kota Krakov dan Poznan.
Dua kota ini terkenal sebagai kota pelajarnya Polandia.
Saat berada di dua kota yang jaraknya berjauhan itu,
Tribun banyak menemukan para pelajar terutama mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi.
Dua kota ini terkenal sebagai kota pelajarnya Polandia.
Saat berada di dua kota yang jaraknya berjauhan itu,
Tribun banyak menemukan para pelajar terutama mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi.
Ada yang menarik dari pengamatan selama berada di dua kota tersebut
terutama ketika di Poznan. Di Poznan ternyata ada sebuah perguruan
tinggi yang membuka jurusan Sastra Bahasa Indonesia. Tribun mengetahui
ini setelah berbincang dengan salah seorang mahasiswi bernama Malta.
Penasaran akan keberadaannya akhirnya kami memutuskan mencari
perguruan tinggi tersebut. Sayangnya sesampai di lokasi ternyata
kegiatan belajar mengajar sedang libur, dan pengelolanya sedang liburan
juga di Belanda.
Tidak putus asa dengan penelusuran tersebut, saat kembali ke Warsawa,
Tribun akhirnya menanyakan keberadaan Perguruan Tinggi itu ke beberapa
staf lokal Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Polandia. Benar
saja, ternyata di Poznan memang ada dibuka jurusan Sastra Indonesia.
Dari keterangan staff KBRI, animo pelajar Polandia untuk menimba ilmu
di Indonesia terbilang tinggi. Ini bisa dilihat dari banyaknya pelajar
yang tertarik untuk belajar Bahasa Indonesia.
Bahkan saat KBRI membuka pendaftaran beasiswa untuk program
pertukaran pelajar ke Indonesia pesertanya sempat membludak. Biasanya
program ini tidak melalui tes tapi setelah dilihat jumlahnya banyak,
maka tes pun dilakukan.
Ada sekitar 40-an pelajar yang saat ini akan jadi calon pelajar di
beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia. Kebalikannya, jumlah pelajar
Indonesia yang belajar di Polandia ternyata masih minim.
Selama berada di Polandia Tribun menemui tidak lebih dari 10 mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Negeri Lech Walesa ini.
sumber : http://www.tribunnews.com/2012/06/19/ada-jurusan-sastra-indonesia-di-kampus-polandia